jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

Jual Sparepart Genset Lovol Murah Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Lovol Murah Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Lovol Murah Jual Sparepart Genset Lovol Murah

Ratu atut Chosiyah sudah hampir dua bulan lamanya mendekam di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur. Hingga kini Atut masih menjabat sebagai gubernur Banten.

Ketua Komisi I DPRD Banten dari Fraksi PDIP Agus Wisass menilai, sikap itu telah menjadi bukti Atut tidak sayang pada masyarakat Banten. Sebab hingga kini Atut tak juga mundur dari posisinya dan memimpin Banten dari balik jeruji.

"Undang-undang No 32 itu memang telah mengatakan sebelum terdakwa dia tidak bisa berhenti, tetapi harus dipahami Undang-undang No 32 itu berazaskan moral dan etika. Moral dan etika itu artinya dikembalikan ke yang bersangkutan masing masing. Yang bersangkutan tidak mempunyai moral dan etika tidak sayang dengan rakyat banten, harusnya legowo mundur," ujar Agus Wisass, Jumat (14/3).

Agus juga meminta anggota DPRD Banten penerima mobil mewah dari adik Atur, Tubagus Chaeri Wardana, mundur dari jabatannya. Sebab, mereka telah mengkhianati amanat rakyat.

Apalagi, kebanyakan dari mereka telah mencalonkan kembali menjadi caleg pada Pemilu 2014 ini.

"Seperti hal sekarang kalau ada caleg terindikasi ya mundur sudahlah ngapain, malu. Di luar sana orang Banten miskin-miskin yang makan saja susah pengangguran saja banyak, kok dia enak-enakan nikmati duit korupsi," katanya.

Ketua Komisi I DPRD Banten: Tak mau mundur, Atut tak punya moral

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »