Jual Sparepart Genset Doosan Murah di Teluk Wondama Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Sparepart Genset Doosan Murah di Teluk Wondama Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Sparepart Genset Doosan Murah di Teluk Wondama Jual Sparepart Genset Doosan Murah di Teluk Wondama

Rumah Penerjemah adalah sebuah lembaga penyedia jasa terjemahan dokumen yang sejak pertengahan tahun 2005 menyediakan jasa penerjemahan semua jenis dokumen, baik itu dokumen individu dan juga dokumen korporasi. Sejak memulai usahanya, Rumah Penerjemah, dengan megusung moto "mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas" serta komistmen untuk memberikan yang terbaik bagi para pengguna jasa terjemahan, berupaya sepenuhnya untuk senantiasa siap menerima setiap order terjemahan dokumen dari pengguna-pengguna jasa kami.

Rumah Penerjemah sendiri dari awal pendirian hingga saat ini, tetap berkomitmen hanya menyediakan layanan jasa translate dokumen saja. Hal ini memang sengaja kami lakukan agar staf-staf penerjemah kami lebih fokus hanya pada terjemahan dokumen. Kebanyakan pengguna jasa penerjemahan di Rumah Penerjemah, umumnya datang dari kalangan korporasi, namun tidak sedikit pula dari kalangan individu atau perorangan.

Rumah Penerjemah memiliki staf-staf penerjemah bahasa  yang berpengalaman dan terampil serta cakap dalam ilmu bahasa. Staf-staf penerjemah di Rumah penerjemah pun telah banyak yang mengantungi sertifikat sebagai Sworn Translator, atau Penerjemah Tersumpah, setelah lulus dalam uji kemampuan bahasa yang diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Bahasa Universitas Indonesia dan Kantor Gubernur DKI Jakarta. Sehingga semua staf penerjemah tersumpah kami adalah penerjemah resmi yang juga telah terdaftar di instansi-instansi pemerintah seperti Departemen Hukum dan HAM, Departemen Luar Negeri bahkan di Kedutaan-Kedutaan Besar negara-negara sahabat.

Dengan didukung sepenuhnya oleh staf penerjemah tersumpah berpengalaman dan juga staf-staf penerjemah biasa yang terampil dan cakap dalam menerjemahkan berbagai jenis dokumen, Rumah Penerjemah telah banyak dikenal oleh kalangan korporasi di seluruh Indonesia. Staf-staf penerjemah yang bekerja di Rumah Penerjemah, terdiri dari staf penerjemah bahasa Inggris, staf penerjemah bahasa Jepang, staf penerjemah bahasa Mandarin dan staf penerjemah bahasa Korea. Dari itu, bagi Anda yang membutuhkan layanan jasa penerjemah bahasa Jepang, Mandarin, Inggris dan Korea, kami persilahkan Anda menghubungi kontak pelanggan kami yang nomornya tercantum diatas.

 

RUMAH RUMAH PENERJEMAH

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »