jual ECM perkins agen ECM perkins distributor ECM perkins toko ECM perkins seting ECM perkins

Jual Genset Lovol Hubungi : 0821 - 1310 - 3112/(021) 9224 - 2423 PT. Tribuana Diesel Adalah penjualan Generating-Set (genset) berkualitas import (builtup) bagi anda yang membutuhkan product berkualitas serta pengadaan yang cepat urgent tanpa berbelit-belit, Genset kami di lengkapi dengan dokumen Certificate Of Original , Manual book engine dan manual book generator, Kami sediakan Genset kapasitas 10 Kva - 650Kva (ANDA PESAN KAMI ANTAR).

Jual Genset Lovol Kami juga menerima pembuatan box silent dan perakitan diesel generator set. Produk kami meliputi berbagai diesel generator set model open, silent lokal yang ukuranya menyesuaikan lokasi pondasi genset, mobile/ trailer . Sebagian besar mesin kami menggunakan Merk : Perkins, Cummins, Deutz, Lovol, Isuzu Foton dengan generator Leroy Somer, Stamford, kualitas terbaik brushless alternator. Jual Genset Lovol Jual Genset Lovol

Orang-orang ini dikenal karena memiliki kebiasaan aneh ataupun kejadian unik yang dialaminya. Mulai dari orang yang tidak pernah tidur selama 30 tahun lebih! Ada pula pria yang punya kebiasaan aneh, yakni memakan benda-benda yang secara normal tak bisa dicerna tubuh manusia. Misalnya, sepeda, televisi, hingga pesawat Cessna 150. Astaga!

Berikut 6 pria paling aneh di muka bumi seperti dirangkum dari dari berbagai sumber:

1. Thai Ngoc, tidak tidur 30 tahun lebih

Pria Vietnam ini tak bisa tidur sejak menderita demam pada tahun 1973. Menurut media Vietnam, Thanh Nien, dia mengklaim tak pernah tidur selama 33 tahun. Selama itu, Thai Ngoc atau Hai Ngoc yang dilahirkan tahun 1942 ini menggunakan 'waktu luangnya' di malam hari untuk mengurusi lahan pertaniannya atau ronda menjaga lahannya dari pencuri. Ngoc memiliki lahan pertanian seluas 5 hektar yang terletak di wilayah kaki gunung di Que Trung, distrik Que Son, Thailand. Sehari-hari Ngoc sibuk bertani dan mengurusi hewan-hewan ternaknya, seperti ayam dan babi.

Anehnya, kesehatan Ngoc tidak terpengaruh dengan kebiasaan tidak bisa tidur tersebut. Sang istri pernah membawa Ngoc untuk memeriksakan kesehatannya dan dokter menyatakan, secara keseluruhan kondisi Ngoc sehat. Kecuali, ada sedikit masalah pada fungsi hatinya, namun tidak serius.

"Saya tidak tahu apakah insomnia yang saya alami mempengaruhi kesehatan saya atau tidak. Tapi saya merasa tetap sehat dan bisa bertani seperti yang lainnya," ucap Ngoc. Pria itu bahkan mengaku setiap harinya masih mampu membawa 50 kg karung pupuk sembari berjalan turun gunung sejauh 4 km.

2. Michel Lotito, pria pemakan segala

Michel Lotito yang lahir pada 15 Juni 1950 adalah seorang entertainer. Di Prancis, dia dikenal sebagai Monsieur Mangetout (Mister Eat-it-all) alias 'Pria Pemakan Segala'. Dalam atraksinya, Lotito gemar memakan benda-benda yang secara normal tak bisa dicerna tubuh manusia, seperti logam, kaca, karet. Bahkan juga benda-benda lain seperti sepeda, televisi, hingga pesawat Cessna 150. Benda-benda tersebut terlebih dahulu dibongkar dan dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil, baru kemudian dimakannya. Lotito diketahui pernah memakan badan pesawat selama 2 tahun, dari 1978-1980

. Kebiasaan makan benda-benda tak lazim ini dilakukan Lotito sejak kecil dan mulai dipamerkan ke publik pada tahun 1966 silam. Meskipun kerap memakan benda-benda aneh, kondisi tubuh dan kesehatan Lotito seolah tak terpengaruh. Dia sama sekali tidak mengalami sakit apapun meskipun telah memakan benda-benda yang mengandung racun.

Ketika memakan berkilo-kilo logam atau benda aneh lainnya, Lotito dibantu dengan minyak mineral atau air dalam jumlah banyak untuk membantu pencernaannya. Menurut pemeriksaan medis, Lotito dinyatakan memiliki perut dan usus dengan ketebalan dua kali lipat dari ukuran normal. Selain itu, asam pencernaan yang ada di dalam lambungnya diperkirakan memiliki kekuatan luar biasa sehingga mampu mencerna benda-benda logam yang dia makan. Luar biasa!

3. Matayoshi Mitsuo, mengaku sebagai Yesus Kristus Politikus eksentrik Jepang ini mengaku dirinya adalah Yesus Kristus. Menurut visi Matayoshi, pria ini mengklaim akan melakukan penghakiman terakhir sebagai Kristus namun dengan cara yang benar-benar sesuai dengan sistem politik saat ini.

Matayoshi menuturkan, langkah pertama yang harus dijalaninya sebagai Juruselamat adalah dengan terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang. Kemudian dia akan mereformasi masyarakat Jepang. Tidak hanya itu, Matayoshi juga meminta PBB untuk memberikannya posisi terhormat sebagai Sekretaris Jenderal PBB. Dengan demikian, Matayoshi akan bisa memerintah seluruh dunia dengan dua jabatan legal tersebut, tidak hanya secara agama tapi juga secara politik.

Matayoshi telah berulang kali ikut serta dalam pemilihan umum di Jepang, namun tidak pernah berhasil menang. Dia dikenal karena kampanyenya yang eksentrik -dia pernah menyerukan para rival politiknya untuk bunuh diri dengan melakukan harakiri.

4. Shoichi Yokoi, 28 tahun sembunyi di gua usai PD II

Yokoi tadinya seorang tentara yang tergabung dalam wajib militer di Tentara Kerajaan Jepang pada tahun 1941 silam dan tak lama kemudian dikirim ke Guam. Pada tahun 1944, ketika pasukan Amerika Serikat menduduki Guam, Yokoi memilih bersembunyi.

Hingga akhirnya pada 24 Januari 1972, Yokoi ditemukan di sebuah daerah terpencil di Guam oleh dua warga pulau tersebut. Selama 28 tahun, pria itu hidup bersembunyi di dalam gua bawah tanah di tengah hutan. Yokoi terlalu takut untuk keluar, bahkan setelah dia menemukan selebaran yang isinya menyebutkan bahwa Perang Dunia II telah berakhir.

Yokoi akhirnya dipulangkan ke Jepang sembari membawa senapannya yang telah berkarat.

5. Sanju Bhagat, 'mengandung' saudara kembarnya di dalam perut

Pria asal India ini memiliki kondisi perut yang tidak wajar, yakni membengkak seperti sedang hamil 9 bulan. Bhagat yang tinggal di Nagpur, India ini sering merasa sesak nafas karena kondisinya itu.

Sampai akhirnya pada suatu malam di bulan Juni 1999, Bhagat menjalani operasi di rumah sakit. Isi perut Bhagat yang awalnya diduga tumor ganas, ternyata merupakan sesuatu yang tak diduga sama sekali. Saat dioperasi, dokter menemukan sejumlah bagian tubuh manusia di bagian dalam perut Bhagat. Bagian-bagian tubuh tersebut ternyata milik saudara kembar Bhagat yang terjebak di dalam perutnya sejak lahir.

Dokter menyatakan, Bhagat mengalami kondisi medis teraneh di dunia, yakni janin di dalam janin lainnya. Sangat jarang terjadi bahwa sebuah janin bisa terjebak di dalam janin kembarannya sendiri. Menariknya, janin yang terjebak ini mampu bertahan hidup sebagai parasit dan menyerap darah dan makanan dari tubuh Bhagat, hingga dia bertambah besar dan mulai menyakiti tubuh Bhagat.

6. Mehran Karimi Nasseri, hidup di bandara sejak 1988

Pria yang juga dikenal sebagai Sir, Alfred Mehran ini merupakan seorang pengungsi asal Iran yang tinggal di Bandara Charles de Gaulle, Prancis sejak Agustus 8 Agustus 1988. Mehran tinggal di ruang tunggu keberangkatan di Terminal Satu bandara internasional di Paris itu selama bertahun-tahun karena tak memiliki dokumen.

Kisah Mehran ini dimulai ketika dia dipenjara dan dianiaya di Iran, kemudian dibuang keluar negeri. Mehran lalu berusaha mendapatkan suaka ke sejumlah negara di Eropa, tapi usahanya tidak membuahkan hasil.

Saat mencoba pergi ke Inggris, Mehran mengklaim bahwa dirinya dirampok dan tasnya dicuri orang saat akan berangkat menuju Bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke Inggris. Dia pun berhasil naik ke pesawat dan terbang ke Inggris. Tapi setibanya di Bandara Heathrow di London, Inggris, Mehran yang tidak membawa dokumen-dokumen yang diperlukan, diterbangkan kembali ke Bandara Charles de Gaulle.

Kepada otoritas Prancis, Mehran tak bisa menunjukkan identitas maupun dokumen-dokumen yang membuktikan dirinya sebagai seorang pengungsi. Dia pun dipindahkan ke zona tunggu, sebuah tempat 'penahanan' bagi pelancong tanpa dokumen.

Kisah Mehran ini konon menjadi inspirasi bagi film 'The Terminal' keluaran tahun 2004, yang dibintangi oleh aktor Hollywood, Tom Hanks. Namun tidak seperti karakter yang diperankan Hanks dalam film tersebut yang tinggal di area transit bandara, Mehran justru tinggal di area keberangkatan, juga di dekat butik-butik dan restoran yang berada di lantai dasar.

Selama tinggal di bandara, Mehran terlihat jarang berkomunikasi dengan orang lain. Dengan membawa-bawa kereta dorong dan tasnya, Mehran tampak seperti pelancong biasa, tanpa ada yang menyadari bahwa dia sebenarnya adalah gelandangan.

Pria Aneh Di Dunia

UNITED NATIONS — Wearing pinstripes and a pince-nez, Staffan de Mistura, the United Nations envoy for Syria, arrived at the Security Council one Tuesday afternoon in February and announced that President Bashar al-Assad had agreed to halt airstrikes over Aleppo. Would the rebels, Mr. de Mistura suggested, agree to halt their shelling?

What he did not announce, but everyone knew by then, was that the Assad government had begun a military offensive to encircle opposition-held enclaves in Aleppo and that fierce fighting was underway. It would take only a few days for rebel leaders, having pushed back Syrian government forces, to outright reject Mr. de Mistura’s proposed freeze in the fighting, dooming the latest diplomatic overture on Syria.

Diplomacy is often about appearing to be doing something until the time is ripe for a deal to be done.

 

 

Now, with Mr. Assad’s forces having suffered a string of losses on the battlefield and the United States reaching at least a partial rapprochement with Mr. Assad’s main backer, Iran, Mr. de Mistura is changing course. Starting Monday, he is set to hold a series of closed talks in Geneva with the warring sides and their main supporters. Iran will be among them.

In an interview at United Nations headquarters last week, Mr. de Mistura hinted that the changing circumstances, both military and diplomatic, may have prompted various backers of the war to question how much longer the bloodshed could go on.

“Will that have an impact in accelerating the willingness for a political solution? We need to test it,” he said. “The Geneva consultations may be a good umbrella for testing that. It’s an occasion for asking everyone, including the government, if there is any new way that they are looking at a political solution, as they too claim they want.”

He said he would have a better assessment at the end of June, when he expects to wrap up his consultations. That coincides with the deadline for a final agreement in the Iran nuclear talks.

Advertisement

Whether a nuclear deal with Iran will pave the way for a new opening on peace talks in Syria remains to be seen. Increasingly, though, world leaders are explicitly linking the two, with the European Union’s top diplomat, Federica Mogherini, suggesting last week that a nuclear agreement could spur Tehran to play “a major but positive role in Syria.”

It could hardly come soon enough. Now in its fifth year, the Syrian war has claimed 220,000 lives, prompted an exodus of more than three million refugees and unleashed jihadist groups across the region. “This conflict is producing a question mark in many — where is it leading and whether this can be sustained,” Mr. de Mistura said.

Part Italian, part Swedish, Mr. de Mistura has worked with the United Nations for more than 40 years, but he is more widely known for his dapper style than for any diplomatic coups. Syria is by far the toughest assignment of his career — indeed, two of the organization’s most seasoned diplomats, Lakhdar Brahimi and Kofi Annan, tried to do the job and gave up — and critics have wondered aloud whether Mr. de Mistura is up to the task.

He served as a United Nations envoy in Afghanistan and Iraq, and before that in Lebanon, where a former minister recalled, with some scorn, that he spent many hours sunbathing at a private club in the hills above Beirut. Those who know him say he has a taste for fine suits and can sometimes speak too soon and too much, just as they point to his diplomatic missteps and hyperbole.

They cite, for instance, a news conference in October, when he raised the specter of Srebrenica, where thousands of Muslims were massacred in 1995 during the Balkans war, in warning that the Syrian border town of Kobani could fall to the Islamic State. In February, he was photographed at a party in Damascus, the Syrian capital, celebrating the anniversary of the Iranian revolution just as Syrian forces, aided by Iran, were pummeling rebel-held suburbs of Damascus; critics seized on that as evidence of his coziness with the government.

Mouin Rabbani, who served briefly as the head of Mr. de Mistura’s political affairs unit and has since emerged as one of his most outspoken critics, said Mr. de Mistura did not have the background necessary for the job. “This isn’t someone well known for his political vision or political imagination, and his closest confidants lack the requisite knowledge and experience,” Mr. Rabbani said.

As a deputy foreign minister in the Italian government, Mr. de Mistura was tasked in 2012 with freeing two Italian marines detained in India for shooting at Indian fishermen. He made 19 trips to India, to little effect. One marine was allowed to return to Italy for medical reasons; the other remains in India.

He said he initially turned down the Syria job when the United Nations secretary general approached him last August, only to change his mind the next day, after a sleepless, guilt-ridden night.

Mr. de Mistura compared his role in Syria to that of a doctor faced with a terminally ill patient. His goal in brokering a freeze in the fighting, he said, was to alleviate suffering. He settled on Aleppo as the location for its “fame,” he said, a decision that some questioned, considering that Aleppo was far trickier than the many other lesser-known towns where activists had negotiated temporary local cease-fires.

“Everybody, at least in Europe, are very familiar with the value of Aleppo,” Mr. de Mistura said. “So I was using that as an icebreaker.”

The cease-fire negotiations, to which he had devoted six months, fell apart quickly because of the government’s military offensive in Aleppo the very day of his announcement at the Security Council. Privately, United Nations diplomats said Mr. de Mistura had been manipulated. To this, Mr. de Mistura said only that he was “disappointed and concerned.”

Tarek Fares, a former rebel fighter, said after a recent visit to Aleppo that no Syrian would admit publicly to supporting Mr. de Mistura’s cease-fire proposal. “If anyone said they went to a de Mistura meeting in Gaziantep, they would be arrested,” is how he put it, referring to the Turkish city where negotiations between the two sides were held.

Secretary General Ban Ki-moon remains staunchly behind Mr. de Mistura’s efforts. His defenders point out that he is at the center of one of the world’s toughest diplomatic problems, charged with mediating a conflict in which two of the world’s most powerful nations — Russia, which supports Mr. Assad, and the United States, which has called for his ouster — remain deadlocked.

R. Nicholas Burns, a former State Department official who now teaches at Harvard, credited Mr. de Mistura for trying to negotiate a cease-fire even when the chances of success were exceedingly small — and the chances of a political deal even smaller. For his efforts to work, Professor Burns argued, the world powers will first have to come to an agreement of their own.

“He needs the help of outside powers,” he said. “It starts with backers of Assad. That’s Russia and Iran. De Mistura is there, waiting.”

With Iran Talks, a Tangled Path to Ending Syria’s War

Artikel lainnya »